Sebelumnya ada yg tau gk apa hubungannya 21 April sama Freemasom? bagi yg belum tahu tak kasih tempe (tahu-red) ya, Setiap tahun
pada tanggal 21 April pemerintah memperingati Hari Kartini. Pada ingat kan sekarang. Terus apa hubungannya sama freemasom. Jadi begini ceritanya. Peringatan Hari kartini ini
merujuk pada sosok Raden Ajeng Kartini (1879-1904), anak priyai Jawa yang
dianggap sebagai pelopor kemajuan perempuan Indonesia.
Pemerintah
menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan
Presiden RI, No.108 Tahun 1964. Kartini dianggap pahlawan karena kontribusinya
dalam menyampaikan gagasan-gagasan tentang kemajuan perempuan. Meskipun
diketahui, bahwa gagasan-gagasan Kartini ternyata sangat dipengaruhi oleh
orang-orang sosialis-feminis, seperti Estella Zeehandelaar. Selain itu, alam
pemikiran Kartini juga sangat bercorak Theosofi, sebuah organisasi kebatinan
Yahudi yang keberadaanya sempat dilarang oleh pemerintah RI.
Dalam buku
”Gerakan Theosofi di Indonesia”, penulis menyimpulkan bahwa ada upaya-upaya,
baik langsung ataupun tidak langsung, dari elit-elit kolonial yang berusaha
menonjolkan Kartini sebagai sosok kemajuan perempuan Indonesia. Upaya ini bisa
saja mengarah kepada ”rekayasa” sejarah yang dilakukan oleh kolonialis. Ini
mengingat bahwa Kartini sangat dekat dengan elit-elit tersebut, seperti J.H
Abendanon, Snouck Hurgronje, H.H van Koll, dan lain-lain. Selain itu, elit
kolonial ketika itu yang kebanyakan menganut paham humanisme, paham yang
dipasarkan oleh Theosofi dan Freemason, mempunyai kepentingan untuk menjadikan
budaya Barat menyatu dengan budaya Timur. Filsafat Barat yang liberal,
sosialis, dan sekular, dipropagandakan agar bisa diterima masyarakat pribumi
ketika itu.
Karena itu,
penjajah Belanda kemudian menggagas Gerakan Politik Etis, yaitu sebuah gerakan
politik kolonialis yang diantaranya mengusung kebijakan asimililasi, unifikasi,
dan asosiasi terhadap masyarakat pribumi. Mereka menyusun sebuah rencana besar
agar warga pribumi bisa terpengaruh dengan berbagai kebijakan pemerintah
kolonial. Asimilasi dan asosiasi diartikan sebagai kebijakan mencampur dan
mengganti kebudayaan pribumi dengan kebudayaan penjajah Belanda. Sedangkan
unifikasi adalah penyatuan seluruh sistem yang berkembang dalam masyarakat
pribumi dan sistem kolonial, yang meliputi pemerintahan, pendidikan, dan sistem
hukum.
Mereka yang
tergabung dalam Gerakan Politik Etis inilah yang kemudian banyak berinteraksi
dengan Kartini, seperti tercermin dalam surat-suratnya. Diantaranya adalah J.H
Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri,
seorang humanis yang direkomendasikan oleh Snouck Hurgronje untuk
mendekati Kartini bersaudara. Tokoh lain yang aktif melakukan pendekatan ala
Gerakan Politik Etis dan disebut namanya dalam surat-surat Kartini adalah H.H
Van Kol (Orang yang berwenang dalam soal jajahan untuk Partai Sosial Demokrat
di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat
Belanda), K.F Holle (Seorang Humanis), dan Snouck Hurgronye (Orientalis yang
juga menjabat sebagai Penasehat Pemerintahan Hindia Belanda).
Kedekatan
Kartini dengan orang-orang tersebut tentu berlangsung saling mempengaruhi.
Apalagi, Belanda mempunyai kepentingan untuk merekrut dan mendidik anak-anak
priyai Jawa. Banyak dari anak-anak pribumi yang dididik dan diberi beasiswa
untuk studi ke negeri Belanda pada masa itu. Diantara lembaga beasiswa yang
aktif menjaring anak-anak pribumi untuk disekolah ke negeri Belanda adalah
”Dienaren van Indie”, sebuah lembaga beasiswa (studie fonds) yang didirikan
oleh kelompok Vrijmetselaarij (Freemason) di Hindia Belanda. Dienaren van Indie
sendiri artinya adalah Abdi Hindia, sehingga diharapkan mereka yang memperoleh
beasiswa dan dididik dengan pendidikan ala Barat, bisa menjadi abdi kolonial
atau setidaknya partner setia kolonialis.
Kembali ke
soal Kartini. Pada masanya, Kartini tidaklah begitu dikenal, kecuali oleh
segelintir elit Belanda.Dibandingkan tokoh-tokoh perempuan lain, kiprah Kartini
hanya dalam bentuk wacana-wacana, tidak dalam bentuk kongkret. Ketika C. Th van
Daventer, anggota Partai Radikal Demokrat, mendirikan Komite Kartini Fonds pada
27 Juni 1913, barulah ide-ide Kartini diperkenalkan kepada orang-orang Belanda.
Selain itu, interaksi dengan Van Kol yang juga anggota parlemen Belanda, yang
meminta Kartini menulis artikel tentang perempuan untuk dibaca orang-orang
Belanda, juga makin membuat Kartini dikenal di Belanda.Termasuk juga dengan
menerbitkan buku Door Duisternis tot Licht pada 1911 yang diterjemahkan oleh
Armijn Pane, seorang sastrawan penganut Theosofi, dengan judul Habis Gelap
Terbitlah Terang.
Pada tahun
yang sama, 24 Desember 1911, Raden Mas Noto Soeroto yang merupakan keturunan
Paku Alam, menawarkan kepada organisasi pelajar Indonesia di Nederland
(Indische Vereeniging yang didirikan pada 1908) agar gagasan Kartini dijadikan
pedoman gerak dan langkah organisasi serta dijadikan acuan pergerakan nasional.
Keluarga Paku Alam pada masa itu dikenal dekat dengan jaringan Freemason
(Vrijmetselarij) atau dalam bahasa orang Jawa disebut ”Gerakan Kemasonan”.
Bahkan, elit Paku Alam pun banyak yang menjadi anggota organisasi ini.
Mengapa
sosok Kartini dijadikan ikon perjuangan perempuan, bahkan dijadikan pahlawan
Nasional? Melihat kedekatannya dengan elit-elit kolonial, apakah ada campur
tangan kolonialis dalam hal ini? Apakah ada rekayasa sejarah?
Prof Harsja
W Bachtiar dalam artikel berjudul ”Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat
Kita” yang ditulis dalam rangka memperingati
100 tahun Kartini, menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjadikan
Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang
Belanda.
Prof. Harsja
melihat penokohan Kartini sebagai sebuah rekayasa sejarah yang dibuat oleh
orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai perempuan pribumi yang menjadi
inspirasi bagi kemajuan perempuan Indonesia. Dengan kata lain, Kartini adalah
sosok yang diciptakan, ditampilkan sebagai ikon, karena kedekatannya dengan
elit Belanda dan pemikirannya yang banyak mengadopsi Barat. Karena itu, Harsja
menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat, jika memang ada
orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang
tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang
dilakukan oleh Kartini.
Dalam
Majalah Tempo, 22 April 1989, Prof. Harsja kembali menegaskan, ”Kebanyakan
wanita kita tidak karena Kartini. Penonjolan Kartini sebagai tokoh pendidikan
wanita, waktu itu sesuai dengan politik etis Belanda,”ujarnya. Harsja menduga,
ada pengaruh pemikiran Stella Zeehandelaar, seorang perempuan sosialis berdarah
Yahudi, yang menjadi teman korespondensi Kartini.”Mungkin Stella banyak
memasukkan ide dengan mengirim pamflet atau buku kepada Kartini,” tutur Harsja.
Dengan penuh tanya, Harsja mengatakan,”Kenapa surat-surat Stella tidak
diterbitkan juga?” Harsja dengan tegas menilai, yang menokohkan Kartini adalah
orang-orang Belanda.
Soal sosok
Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh
kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Taufik
menulis,
”Tak banyak
memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya
sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan
aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai
masalahnya. R.A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi
medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada
selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya
sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan
politik asosiasi?” (Kata Pengantar Taufik Abdullah dalam Th Sumarna, Agama dan
Pergulatan Batin Kartini, hal.XV)
Interaksi
Kartini dengan organisasi Oost en West (Timur dan Barat) yang ditulis dalam
surat-suratnya, meski tidak disebutkan bahwa organisasi itu milik kelompok
Theosofi, namun literatur sejarah menyatakan bahwa Oost en West adalah
organisasi milik Theosofi di Batavia yang juga menyelenggarakan lembaga
pendidikan untuk guru bernama Goenoeng Sarie. Kartini juga pernah berikirim
surat menanyakan kabar keluarga Van Kol di Fort de Kock (di daerah Agam, Bukit
Tinggi, Sumatera Barat), sebuah daerah yang juga berdiri Loji Theosofi.
Sebagai
sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan,
sinkretisme—atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme—juga tentang
pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di
sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh
kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan
yang sama dengan Kartini School.
Kartini,
seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang
diciptakan oleh Belanda untuk menunjukan bahwa pemikiran Barat-lah yang
menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses
asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan
Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini
yang kini dijadikan pahlawan dan diperingati hari kelahirannya setiap tahun.
Kita diarahkan oleh kolonial untuk mengakui sosok yang ”terbaratkan” oleh paham
humanisme sebagai idola.
gimana? ya semua terserah kitanya juga, perspektive tiap orang kan berbeda. Paling tidak bisa jadi bahan pertimbangan lah buat diri kita masing.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar